Tampilkan Ringkasan Artikel

Ringkasan Berita

  • Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) resmi memulai rangkaian peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 2026 melalui ekspedisi sejarah di kawasan Kesultanan Banten.
  • Pemilihan Banten sebagai lokasi pembuka HPN 2026 memiliki nilai filosofis karena daerah tersebut merupakan tempat kelahiran SMSI pada tahun 2017.
  • SMSI menegaskan komitmen insan pers untuk tetap menjaga integritas, profesionalisme, dan kualitas informasi publik di tengah maraknya tantangan hoaks serta disrupsi teknologi.
AI Icon Ringkasan di Generate oleh MEOWCONNECT, BADAKPOS.com Artificial Intelligence

Menurutnya, tantangan pers saat ini bukan hanya kecepatan informasi, tetapi juga akurasi dan integritas.

Baca Juga:  Baznas Berikan Bantuan Peralatan dan Pelatihan Bagi Mekanik di Pandeglang

“SMSI dimulai dari Banten. Maka harus terus bersinergi dan menciptakan pers yang baik untuk Indonesia.Tantangan bangsa tidak ringan, mulai dari hoaks hingga manipulasi informasi. Pers yang bertanggung jawab menjadi kunci,” tegasnya.

Ketua SMSI Provinsi Banten, Lesman Bangun, menilai pemilihan Banten sebagai lokasi pembuka HPN 2026 memiliki nilai filosofis kuat. Semangat perjuangan masyarakat Banten, kata dia, selaras dengan fungsi pers sebagai penjaga kebenaran dan kontrol sosial.

advertisement Iklan Artikel 1
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

“Kami ingin peserta merasakan langsung ruh perjuangan dan peradaban Banten. Dari sini, pers nasional diharapkan membawa narasi positif, edukatif, dan mencerahkan ke ruang publik,” jelasnya.

Baca Juga:  Perhelatan UCF  26-29 Juli 2024 Mendatang, Bakal Diramaikan Offroader Banten

Di akhir kegiatan, perwakilan Kesultanan memaparkan sejarah panjang perjuangan Banten yang dikenal tidak pernah tunduk pada penjajahan. Nilai keteguhan itulah yang diharapkan menjadi inspirasi bagi insan pers dalam menjaga marwah profesi.

advertisement Iklan Artikel 2

Rangkaian HPN 2026 selanjutnya akan berlanjut dengan sejumlah agenda edukatif dan kebudayaan di berbagai daerah, termasuk kunjungan ke Museum Multatuli sebagai bagian dari penguatan literasi sejarah dan pers.